Makna I'tikaf
I'tikaf arti asalnya menetap, tidak meninggalkan, mengasingkan diri, menahan, dan mencegah. Arti i'tikaf berkembang menjadi menyembah dengan tetap dan tidak meninggalkan sembahannya, tekun. Firman Allah Swt.:
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ
"Dan ingatkah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?'" (Q.S. al-Anbiya [21]: 52)
قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى
"Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami'." (Q.S. Thaha [20]: 91)
Sedangkan yang dimaksud dengan i'tikaf yang disyariatkan adalah menetapnya seorang mukmin di masjid dengan niat beribadah hanya kepada Allah dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya.
Hukum I’tikaf
I’tikaf disyariatkan sebagaimana firman Allah Swt.:
وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
“Dan Kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, i’tikaf, rukuk, dan sujud’.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 125)
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Adalah Nabi saw. beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (H.R. Bukhari)
I’tikaf itu hukumnya mandub (sunah). Tidak ada perintah yang menunjukkan wajib serta tidak ada ancaman bagi orang yang tidak beri’tikaf. Firman Allah Swt.:
وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ
“Dan janganlah kamu bermubasyarah dengan istri-istri kalian manakala kalian sedang i’tikaf di masjid-masjid.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 187)
Sabda Rasulullah saw.:
مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ
“Siapa yang beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir.” (H.R. Bukhari)
Sedangkan i’tikaf bagi perempuan tidak ada keterangan kecuali istri-istri Rasulullah saw. Hal itu pun setelah ada izin dari Beliau. Dalam pelaksanaannya pun harus lebih tertib menggunakan ruangan khusus, seperti tenda agar jangan sampai mengganggu orang-orang yang akan shalat berjamaah. Bila hal itu tidak bisa dilakukan, maka i’tikaf bagi perempuan hukumnya terlarang.
Tempat I’tikaf
Pada surah al-Baqarah ayat 187, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengisyaratkan bahwa i’tikaf itu dilakukan di dalam masjid. Ada pendapat yang membolehkan i’tikaf di mushalla bahkan di dalam mushalla rumahnya. Namun, tidak ada hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. beri’tikaf selain di masjid.
Keterangan lain, bahwa Rasulullah saw. pernah mengizinkan sebagian istrinya untuk i’tikaf di masjid. Beliau tidak menunjukkan tempat lain sebagai pengganti masjid. Hal ini mengisyaratkan bahwa tempat i’tikaf itu adalah masjid.
Ada pula yang berpendapat bahwa masjid-masjid yang dimaksud adalah tiga masjid yang terkenal: Masjid al-Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid al-Aqsha di Palestina. Tetapi ada keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Aisyah yang menjelaskan bahwa,
لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ جَامِعٍ
“Tidak boleh i’tikaf keculai di masjid jami’.”
Dalam sebuah riwayaat yang munqathi’ dijelaskan bahwa masjid yang dimaksud adalah masjid yang tidak ada muadzinnya serta imamnya tidak sembarang orang.
Waktu I’tikaf
Rasulullah saw. biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Tetapi, Beliau pun pernah pula beri’tikaf pada pertengahan bulan Ramadan dan meng-qadha i’tikafnya pada bulan Syawal karena di suatu bulan Ramadan Beliau meninggalkannya.
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ فَإِذَا صَلَّى الغَدَاءَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيْهِ. قَالَ: فَسْتَأْذَنَتْهُ عَائِسَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيْهِ قُبَّةً. فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً. وَسَمِعَتْ بِهَا زَيْنَبُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً أُخْرَى. فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْغَدَاةِ أَبْصَرَ أَرْبَعَ قِبَابٍ، فَقَالَ: مَا هَذَا فَأَخْبَرَ خَبَرَهُنَّ. فَقَالَ: مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هَذَا الْبِرُّ انْزِعُوْهَا فَلاَ أَرَاهَا! فَنُزِعَتْ. فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ. حَتَّى اعْتَكَفَ فِي أَخِرِ الْعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ. (رواه البخارى)
“Adalah Rasulullah saw. beri’tikaf pada setiap bulan Ramadan. Apabila selesai shalat Subuh, Beliau masuk ke tempat i’tikafnya. Kata (Rawi), Aisyah minta izin untuk beri’tikaf, maka Beliau mengizinkannya, kemudian ia membuat tenda. Hafshah mendengar hal itu, ia pun mendirikan tenda. Dan hal itu pun didengar Zainab, lalu ia pun mendirikan tenda yang lain. Setelah Rasulullah saw. selesai Shalat Subuh (hari berikutnya), Beliau melihat ada empat tenda. Katanya, ‘Apa ini?’ Lalu diberitahukan kepadanya tentang mereka (istri-istri Beliau). Katanya lagi, ‘Buat apa mereka melakukan ini? Apakah mencari kebaikan? Bongkar tenda-tenda ini! Aku tidak mau melihatnya lagi’. Kemudian dibongkar tenda-tenda tersebut. Rasulullah saw. pada Ramadan itu tidak i’tikaf sehingga Beliau i’tikaf di sepuluh terakhir pada Bulan Syawal.” (H.R. Bukhari)
Adapun batas minimal dan maksimal lamanya i’tikaf di kalangan para ulama berbeda pendapat karena tidak ada dalil yang menjelaskan hal itu. Ada yang berpendapat minimal satu hari, sehari semalam, bahkan ada pula yang menyatakan, seseorang termasuk i’tikaf walaupun hanya sejenak diam di masjid, tetapi harus dibarengi dengan niat.
Demikian pula perbedaan pendapat tentang batas maksimalnya. Tetapi pada umumnya, Rasulullah saw. beri’tikaf selama sepuluh hari.
Sedangkan yang membatalkan i’tikaf adalah keluar dari tempatnya, kecuali untuk memenuhi kebutuhan buang air, berwudu, makan dan minum, itu pun bila tidak ada yang mengantarkannya.
Dalam riwayat Abu Daud, Aisyah, Ummul Mu’minin menerangkan,
أَلسُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لاَ يَعُوْدَ مَرِيْضًا وَلاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلاَ يَمَسَّ امْرَأَةً وَلاَ يُبَاشِرُهَا وَلاَ يَخْرُجُ إِلاَّ لِحَاجَةٍ مَالاَ بُدَّ مِنْهُ وَلاَ إِعْتِكَافَ إِلاَّ فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ. (رواه أبو داود)
“Sunah atas orang yang ber’itikaf adalah tidak menengok orang yang sakit, menghadiri jenazah, menyentuh dan mencumbu istri, dan tidak boleh keluar (dari masjid) kecuali untuk keperluan yang sangat dan tidak ada i’tikaf kecuali dengan shiyam dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (H.R. Abu Daud)
Fadilah I’tikaf
فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ
“(Cahaya itu ada) di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut di dalamnya nama-Nya. Di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (Hari Kiamat).” (Q.S. an-Nuur [24]: 36-37)
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ
“Seorang laki-laki yang hatinya selalu tergantung di masjid.” (Muttafaq ‘Alaih)
إِنَّ أَحَدَكُمْ فِي صَلَاةٍ مَادَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ وَ الْمَلاَئِكَةُ تَقُوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَالَمْ يَقُمْ مِنْ مُصَلَّاهُ أَوْ يُحْدِثْ. (رواه البخارى)
“Sesungguhnya seseorang di antaramu tetap akan mendapat pahala shalat selama menunggu shalat berikutnya. Dan para Malaikat pun akan mendoakan, ‘ Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, berilah ia rahmat selama belum beranjak dari tampat shalatnya atau sebelum berhadats’.”
Sedekah sambil i'tikaf? Bisa, tinggal klik link ini: Link Sedekah Ramadan
Bagi yang hendak menunaikan zakat secara mudah dan praktis, bisa ditunaikan di link ini: Link Bayar Zakat
Baca Juga:
Seberapa Rindu Kita dengan Bulan Suci Ramadan?
Infak Mushaf Al-Qur'an Dirasakan Manfaatnya bagi Warga Muara Sungkai
Guru Ngaji di Palu Gembira Mendapat Bingkisan Ramadan
Gambar: Artificial Intelligence (AI)
Penulis: KH. M. Rahmat Najieb
Tags:
ramadhan
ibadah
artikel islam
masjid
I'tikaf