lazpersis.or.id - Hidup tidak pernah benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Setiap hari, manusia dihadapkan pada berbagai tekanan, seperti persoalan ekonomi, relasi sosial, tuntutan pekerjaan, godaan hawa nafsu, hingga pergulatan batin yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Dalam situasi seperti inilah, kesabaran menjadi salah satu sikap paling berat untuk dijaga. Bukan karena kesabaran itu tidak mulia, melainkan karena ia menuntut keteguhan hati di saat jalan pintas terasa lebih mudah dan menggoda.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa ujian adalah keniscayaan hidup:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami telah beriman’, sementara mereka tidak diuji?” (Q.S. al-‘Ankabut: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi komitmen yang diuji melalui kesabaran, ketaatan, serta konsistensi dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam sikap sosial dan moral sehari-hari.
Ingatlah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua,
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (H.R. Tirmidzi No. 2396)
Bukankah kita ingin menjadi hamba yang dicintai Allah? Maka, laluilah setiap ujian dengan kesabaran yang terus dipupuk dalam diri.
Kesabaran dalam Menjaga Ketaatan
Menjaga ketaatan bukan hanya soal melakukan ibadah ritual, tetapi juga mempertahankan orientasi hidup agar tetap selaras dengan nilai-nilai Ilahi. Di tengah ritme hidup modern yang serba cepat, ketaatan sering kali terasa berat karena menuntut disiplin, pengorbanan waktu, dan kemampuan menahan diri dari hal-hal yang melalaikan.
Dalam perspektif psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori pengendalian diri atau self-regulation. Teori ini menjelaskan bahwa manusia membutuhkan energi mental untuk mengendalikan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan jangka panjang. Ketika energi ini terkuras oleh stres dan tekanan hidup, menjaga ketaatan menjadi semakin menantang. Islam, melalui konsep sabar, mengajarkan penguatan daya tahan mental (resiliensi) agar manusia tidak mudah menyerah pada kelelahan batin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (H.R. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan sikap pasif, melainkan cara aktif dalam mengelola respons terhadap realitas hidup dengan tetap menjaga ketaatan kepada Allah. Jika kita sudah mampu bersabar, maka sama saja kita sesang menerima karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.” (H.R. Bukhari No. 1469, Muslim No. 1053)
Tetap Berbuat Baik dan Membantu Sesama di Tengah Kesulitan
Di antara bentuk kesabaran yang sering terabaikan adalah kesabaran untuk tetap berbuat baik dan membantu sesama, meskipun diri sendiri sedang berada dalam kesulitan. Secara naluriah, manusia cenderung menarik diri ketika diuji, merasa tidak cukup kuat atau tidak cukup mampu untuk peduli pada orang lain. Namun Islam justru mengajarkan sebaliknya: bahwa kebaikan tidak boleh berhenti hanya karena keadaan tidak ideal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ
“Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. al-Baqarah: 148)
Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik bukanlah aktivitas yang menunggu kondisi sempurna, melainkan prinsip hidup yang terus dijalankan. Dari sudut pandang psikologi sosial, membantu orang lain di tengah kesulitan justru dapat meningkatkan meaning in life (makna hidup) dan memperkuat kesehatan mental. Tindakan altruistik terbukti membantu individu keluar dari jebakan stres dan keputusasaan karena mengalihkan fokus dari beban pribadi menuju kontribusi sosial yang bermakna.
Kesabaran dalam berbuat baik adalah bentuk ṣabr ‘ala ṭ-ṭā‘ah, yakni bersabar dalam ketaatan sosial. Ia menuntut keikhlasan, pengendalian ego, serta keyakinan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Menjaga Diri dari Kemaksiatan: Ujian yang Paling Halus
Salah satu bentuk ujian terberat adalah menjaga diri dari kemaksiatan yang sering kali hadir dalam bentuk yang halus, normal, bahkan dibenarkan oleh lingkungan sosial. Di sinilah kesabaran diuji bukan oleh penderitaan, melainkan oleh kenikmatan sesaat.
Teori sosiologi tentang social norms menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh standar yang berlaku di lingkungannya. Ketika kemaksiatan dianggap wajar, bahkan dipromosikan secara terbuka, individu yang ingin menjaga diri membutuhkan kesabaran ekstra untuk tetap teguh. Islam menyebut bentuk kesabaran ini sebagai ṣabr ‘anil ma‘ṣiyah, yakni bersabar dengan cara menahan diri dari perbuatan dosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙ فَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ
“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (Q.S. an-Nazi‘at: 40–41)
Ayat ini menegaskan bahwa menahan diri bukanlah kehilangan, melainkan investasi jangka panjang untuk kebahagiaan sejati.
Istikamah dalam Kebaikan: Kesabaran Jangka Panjang
Jika kesabaran adalah kemampuan bertahan dalam ujian, maka istikamah adalah kesabaran yang berumur panjang. Banyak orang mampu memulai kebaikan, tetapi sedikit yang mampu menjaganya secara konsisten, yakni baik dalam ibadah, akhlak, maupun kepedulian sosial.
Dalam kajian psikologi, hal ini berkaitan dengan teori grit, yakni ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang meskipun menghadapi kegagalan dan hambatan. Islam sangat menekankan nilai ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristikamahlah.” (H.R. Muslim)
Istikamah menuntut kesabaran dalam menghadapi proses, menerima keterbatasan diri, dan terus melangkah meski hasil belum terlihat. Termasuk di dalamnya adalah konsistensi dalam berbuat baik dan membantu sesama, meskipun tidak selalu mendapat apresiasi atau balasan langsung.
Menuju Hasanah di Dunia dan Akhirat
Tujuan akhir dari kesabaran, ketaatan, kepedulian sosial, dan istikamah adalah meraih kebahagiaan yang utuh, yakni hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah. Kebahagiaan dunia bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup dengan makna, ketenangan batin, dan arah yang jelas. Sementara kebahagiaan akhirat adalah puncak harapan bagi setiap mukmin yang bersabar dan istiqamah.
Doa yang sering kita panjatkan mencerminkan keseimbangan ini:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Al-Baqarah: 201)
Kesabaran, pada akhirnya, bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman dan kematangan jiwa. Ia adalah jalan sunyi yang berat, namun di sanalah manusia menemukan makna hidup, keteguhan diri, dan kebahagiaan yang tidak mudah runtuh oleh keadaan.
Mau istikamah berbagi dan bantu sesama? Yuk, tunaikan kebaikan harian Anda di link ini: Link Infak & Sedekah
Bagi yang hendak menunaikan zakat, silahkan akses link ini: Link Bayar Zakat
Baca Juga:
Rahasia Penyandingan Salat dan Zakat dalam Al-Qur’an
Sekretaris Umum PP PERSIS: Pengelolaan Zakat Adalah Jihad dalam Ibadah Maliyah
Sumber Gambar: https://www.idntimes.com
Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags:
lazpersis
berbagi
iman
ujian
sabar