lazpersis.or.id - Bulan suci Ramadhan memang telah berlalu meninggalkan kita. Namun, pernahkah kita merenung, apakah kebaikan yang susah payah kita bangun selama sebulan penuh ikut pergi begitu saja?
Tentu kita sepakat bahwa gelar takwa tidak hanya berlaku selama 30 hari. Sejatinya, bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya adalah pembuktian dari "madrasah" Ramadhan yang baru saja kita lewati. Kebiasaan-kebiasaan indah itu harus terus dilanjutkan.
Tarawih yang usai kini bisa diteruskan dengan rutinitas shalat malam (Tahajud). Al-Qur'an yang sempat kita khatamkan, jangan sampai kembali berdebu di lemari, teruslah dibaca dan dipahami maknanya. Begitu pula dengan semangat menuntut ilmu. Majelis-majelis kajian keislaman harus tetap kita makmurkan. Dan yang tak kalah penting, yakni semangat berinfak dan bersedekah jangan sampai anjlok meskipun di tengah kesulitan masih melanda warga dunia, termasuk bagi warga negara Indonesia.
Ujian Ekonomi: Mengapa Kita Harus Terus Berbagi?
Kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas saat ini. Kita sedang berada di fase yang cukup menantang. Harga-harga kebutuhan pokok masih melonjak naik, dan dengan melihat dinamika situasi nasional maupun global, bukan tidak mungkin harga-harga ini akan terus meroket.
Di saat seperti ini, wajar jika kita merasa perlu mengencangkan ikat pinggang. Namun, mari kita lihat lebih ke bawah lagi. Jika kita yang berada di kelas menengah saja merasa berat, bayangkan bagaimana nasib saudara-saudara kita di kelompok masyarakat terbawah? Mereka semakin tergencet oleh keadaan. Harga sembako yang tak kunjung stabil dan enggan turun membuat beban hidup mereka kian mencekik.
Justru di saat krisis inilah, gerakan bantu sesama tidak boleh surut. Bahkan, intensitasnya perlu kita tingkatkan. Kebaikan tidak boleh kalah oleh inflasi.
Janji Langit untuk Mereka yang Gemar Berbagi
Jika logika ekonomi manusia mengatakan bahwa memberi saat sedang sulit akan membuat kita miskin, maka logika iman mengatakan sebaliknya. Allah Swt. justru sangat memuji hamba-Nya yang tetap berbagi dalam kondisi ekonomi yang terjepit.
Mari kita resapi beberapa dalil penyemangat berikut ini:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali Imran: 134)
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Dan, Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Kondisi zaman boleh saja berubah dan bertambah sulit, tetapi empati dan solidaritas umat Islam tidak boleh luntur. Mari jadikan sisa umur kita setelah Ramadhan ini penuh dengan karya, kontribusi, dan kepedulian.
Untuk memastikan setiap rupiah yang Anda infakkan tepat sasaran dan mampu meringankan beban saudara kita yang paling membutuhkan, LAZ PERSIS berkomitmen penuh untuk terus hadir. Kami siap menjadi jembatan kebaikan, menyalurkan amanah dari para dermawan kepada mereka yang berhak menerima.
Bersama LAZ PERSIS, mari kita rajut terus tali kepedulian, karena kemaslahatan dan kesejahteraan umat yang kita idam-idamkan hanya bisa terwujud melalui bahu-membahu dan tolong-menolong.
Bismillah, mari terus berbagi!
Berbagi sesama bisa langsung ditunaikan di link ini: Link Berbagi
bagi yang belum menunaikan kewajiban zakat, bisa langsung ditunaikan di sini: Link Zakat
Baca Juga:
Manfaat Program Berkah Ramadhan 1447 H Sukses Menembus Batas Wilayah dan Sosial
Meski Diguyur Hujan, Semangat NGOPI Pemuda Lampung Barat Tetap Menyala
Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags:
ramadhan
lazpersis
berbagi
sedekah
syawal
infak