Merenungi Firman Allah Surah Al-Isra Ayat 7
lazpersis.or.id - Ada kalanya kita merasa lelah berbuat baik. Kita membantu orang lain, tetapi tidak mendapatkan feedback sebagaiamana harapan kita. Kita menyisihkan sebagian harta, tetapi seolah tidak ada artinya, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat di sekitar kita. Kadang kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, namun justru sering menerima perlakuan yang tidak menyenangkan.
Pada saat-saat seperti itulah, Allah mengingatkan kita melalui sebuah ayat yang singkat, tetapi sangat dalam maknanya. Allah Yang Mahabaik berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. al-Isra: 7)
Ayat ini seolah menjadi pelukan bagi hati yang lelah berbuat baik. Allah mengajarkan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia. Semua akan kembali kepada pelakunya.
Sekilas tentang Surat al-Isra Ayat 7
Secara konteks, ayat ini berbicara tentang Bani Israil. Allah mengingatkan bahwa ketika mereka taat, manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Sebaliknya, ketika mereka melakukan kerusakan dan pembangkangan, akibat buruknya pun mereka rasakan sendiri.
Namun, para ulama tafsir menjelaskan bahwa pesan ayat ini bersifat universal. Ia berlaku untuk siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, maknanya kebaikan selalu kembali kepada pelakunya dan keburukan pun demikian. Inilah hukum Allah yang tidak pernah berubah.
Intisari Tafsir dari Para Mufassir: Kebaikan adalah Investasi Diri
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa seluruh amal manusia pada hakikatnya kembali kepada dirinya sendiri. Ketaatan tidak menambah kemuliaan Allah, sebagaimana kemaksiatan tidak mengurangi keagungan-Nya. Manusialah yang akan merasakan manfaat atau akibat dari perbuatannya.
Senada dengan itu, Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini merupakan kaidah umum dalam kehidupan. Siapa yang berbuat baik akan memetik buahnya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, siapa yang berbuat buruk akan menuai akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pahala kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Allah memperlakukan manusia sesuai dengan amal yang mereka lakukan. Ketika seseorang membiasakan kebaikan, Allah akan membukakan jalan-jalan keberkahan dalam hidupnya.
Sementara itu, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah memandang ayat ini sebagai hukum sebab-akibat moral. Kebaikan membentuk pribadi yang baik, memperkuat keluarga, dan membangun masyarakat yang sehat. Sebaliknya, keburukan akan merusak pelakunya, meskipun dampaknya terkadang tidak langsung terlihat.
Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Qur'an juga mengingatkan bahwa Islam mendidik manusia untuk bertanggung jawab atas pilihannya. Kita tidak dapat terus-menerus menyalahkan keadaan, lingkungan, atau orang lain. Masa depan dibentuk oleh pilihan yang kita ambil hari ini.
Kebaikan yang Sering Tidak Kita Sadari
Banyak orang mengira bahwa kebaikan hanya berarti sesuatu yang besar dan spektakuler. Padahal, senyuman yang tulus, ucapan yang menenangkan, bantuan kecil kepada tetangga, atau doa yang dipanjatkan untuk orang lain pun merupakan bentuk kebaikan.
Yang menarik, orang pertama yang menikmati manfaat kebaikan sebenarnya bukanlah penerimanya, melainkan pelakunya sendiri.
Orang yang suka memaafkan memiliki hati yang lebih lapang.
Orang yang gemar membantu merasakan kebahagiaan yang lebih dalam.
Orang yang dermawan hidup dengan jiwa yang lebih tenang.
Sebaliknya, kebencian, kedengkian, dan sifat kikir sering kali menjadi beban yang menyiksa pemiliknya sebelum menyakiti orang lain.
Maka benar firman Allah,
"Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri."
Infak dan Sedekah: Kebaikan yang Kembali kepada Diri
Di antara bentuk kebaikan yang paling nyata adalah infak dan sedekah.
Sebagian orang masih memandang sedekah sebagai kehilangan. Ketika sejumlah uang keluar dari rekeningnya, ia merasa hartanya berkurang.
Padahal, al-Qur'an justru mengajarkan perspektif yang berbeda. Infak bukanlah kehilangan dan sedekah bukanlah pengurangan. Itu semua adalah investasi.
Apa yang kita keluarkan di jalan Allah sesungguhnya sedang kita kirimkan untuk diri kita sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Sang Panutan kita semua pernah bertanya kepada para sahabat tentang harta siapa yang paling dicintai. Mereka menjawab, “Harta kami sendiri”.
Beliau bersabda,
“Sesungguhnya hartamu yang sebenarnya adalah apa yang telah engkau sedekahkan, sedangkan yang engkau tinggalkan hanyalah milik ahli warismu.”
Betapa sering kita bekerja keras mengumpulkan harta yang suatu saat akan kita tinggalkan, sementara kita lupa mempersiapkan bekal yang benar-benar akan menemani perjalanan menuju akhirat.
Mengapa Harus Rutin Bersedekah?
Sedekah yang dilakukan sesekali tentu baik. Namun, sedekah yang dilakukan secara rutin memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.
Sedekah rutin melatih keikhlasan.
Sedekah rutin membunuh sifat kikir sedikit demi sedikit.
Sedekah rutin menumbuhkan rasa syukur.
Sedekah rutin menjadikan hati lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Lebih dari itu, sedekah rutin menunjukkan bahwa kita percaya kepada janji Allah Yang Mahabaik bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Bahwa apa yang kita keluarkan karena Allah akan kembali kepada kita dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita duga. Bisa berbentuk ketenangan hati, kesehatan, kemudahan urusan, keluarga yang harmonis, anak-anak yang saleh, keberkahan rezeki, atau pahala yang menanti di akhirat kelak.
Mari Memulai dari yang Kecil
Tidak semua orang mampu bersedekah dalam jumlah besar. Namun, hampir semua orang mampu bersedekah secara rutin.
Tidak harus jutaan rupiah. Mungkin seribu rupiah setiap hari. Lima ribu rupiah setiap pekan. Sepuluh ribu rupiah setiap Jumat. Sebab yang terpenting bukanlah besarnya nominal, melainkan konsistensi dan keikhlasan. Sedikit tetapi terus-menerus lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi hanya sesekali.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Boleh jadi, justru karena bersedekahlah Allah membuka pintu-pintu kecukupan.
Jangan menunggu lapang untuk berinfak. Boleh jadi, infak itulah yang mendatangkan kelapangan.
Surat Al-Isra ayat 7 mengajarkan sebuah prinsip hidup yang sederhana tetapi mengubah cara pandang kita terhadap kebaikan.
Apa pun kebaikan yang kita lakukan tidak pernah hilang. Ia kembali kepada diri kita sendiri dan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dunia dan tabungan berharga di akhirat.
Karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik dan teruslah menebar manfaat.
Teruslah membantu sesama dan jadikan infak serta sedekah sebagai kebiasaan yang menghidupkan hati.
Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan yang akan menyelamatkan kita. Melainkan seberapa banyak kebaikan yang telah kita kirimkan untuk diri kita sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berbuat baik, ringan tangan untuk berbagi, istiqamah dalam berinfak, dan dipanggil pulang dengan membawa bekal amal terbaik. Aamiin…
Yuk, pilih program infak dan sedekah harianmu di sini: Infak & Sedekah Rutin
Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung akses link ini: Bayar Zakat
Baca Juga:
Secercik Kebahagian di Tapal Batas: Catatan Perjalanan ke Desa Liang Bunyu - Kalimantan Utara
Beasiswa Santri Tangguh Diberikan kepada Santri Berprestasi di PPI 16 Cipada
LAZ PERSIS Dukung Pengembangan Usaha Peternak Ayam Lokal di Cianjur