Seni Mengetuk Pintu Langit: Belajar dari Nabi Musa dalam Bermunajat

lazpersis.or.id - Berdoa sering kali kita maknai sekadar sebagai daftar permintaan yang kita sodorkan kepada Tuhan. Namun, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam mahakaryanya, Kitab At-Tanwir, menyingkap sebuah dimensi doa yang jauh lebih dalam melalui kisah Nabi Musa 'alaihissalam.

Saat dihimpit kesulitan dan pelarian, Nabi Musa tidak menengadahkan tangan untuk mendiktekan apa yang ia mau kepada Allah. Alih-alih meminta secara langsung, ia datang dengan sebuah pengakuan utuh atas ketidakberdayaannya. Ia melucuti segala egonya dan menyodorkan rasa butuhnya yang teramat sangat di hadapan Sang Pencipta.

Mengapa doa semacam ini sangat agung? Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan, ketika seorang hamba menetapkan dirinya dalam kefakiran dan rasa butuh, pada detik yang sama ia sedang bersaksi atas ke-Mahakayaan Tuhannya. Ia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa tanpa Dzat Yang Maha Segalanya. Inilah hakikat dari pemeo kearifan jiwa, “Barangsiapa mengenali dirinya (yang lemah dan fakir), maka ia akan mengenali Tuhannya (Yang Maha Kuat dan Maha Kaya)."

Bacaan Lainnya:

Jangan Hanya Menjalani Hari, tapi Maknai Harimu!‎

Dorong Kemandirian Pesantren, LAZ PERSIS Hadirkan Program Santri Mart di Subang

Santri Hebat di Subang Terima Beasiswa Program Santri Tangguh

Skenario Luka sebagai Undangan Munajat

Kondisi rapuh yang kita alami di dunia ini sejatinya bukanlah hukuman, melainkan “hamparan munajat”, sebuah undangan mesra dari Allah dengan cara yang beraneka ragam.

Ada kalanya Allah meletakkan kita di palung kemiskinan dan kebutuhan, semata-mata agar lisan dan hati kita merintih memanggil, “Yaa Ghaniyy, Wahai Dzat Yang Mahakaya.” Di waktu lain, kehidupan mungkin melempar kita pada situasi yang penuh kehinaan atau direndahkan oleh manusia. Itu adalah cara-Nya memeluk kita agar kita berlari dan bersandar seraya menyebut, “Yaa Aziiz, Wahai Dzat Yang Mahamulia.” Dan ketika engkau dihempas oleh kelemahan yang melumpuhkan, sesungguhnya Allah sedang memintamu memanggil-Nya dalam doa, “Yaa Qawiyy, Wahai Dzat Yang Mahakuat.”

Pengakuan jujur Nabi Musa atas kebutuhannya kepada Allah adalah sebentuk doa yang paling fasih, meski tanpa satu pun kata permintaan yang eksplisit. Terkadang, doa yang paling mustajab justru lahir dari deskripsi jujur tentang kehinaan seorang hamba. Di saat lain, doa terindah terangkai dari kekaguman atas sifat-sifat Allah Yang Maha Esa.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebaik-baik doa:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku baca adalah: LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR (Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Maha menguasai atas segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi)

Syekh Ibnu Athaillah menyoroti kedalaman makna hadis ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pujian kepada Allah sebagai esensi dari doa itu sendiri. Memuji Sang Pemilik Semesta dengan menyebutkan sifat-sifat keagungan-Nya sama artinya dengan menjabarkan keluasan karunia-Nya, yang secara tersirat mengundang rahmat-Nya turun memeluk kita.

Kebaikan Tanpa Pamrih: Mengetuk Hati Langit

Sesungguhnya, ketika seseorang meminta kebaikan kepada Tuhan, Allah tak akan pernah menolak. Karena Musa tulus bekerja untuk Allah tanpa pamrih pada manusia, Allah membalasnya dengan skenario yang jauh lebih indah. Allah mempercepat ganjaran untuknya di dunia. Nabi Musa mendapat perlindungan, pekerjaan, bahkan dinikahkan dengan salah satu putri Nabi Syuaib sebagai anugerah pembuka dari pahala agung yang kelak menantinya di akhirat.

Kisah ini adalah pengingat bagi kita, yakni hadirlah di hadapan Tuhan dengan hati yang hancur karena butuh kepada-Nya, dan berbuat baiklah tanpa menunggu tepuk tangan manusia. Sisanya, biarkan kemurahan Allah yang mengambil alih.

Yuk, sempurnakan do'a-do'a kita dengan sisipkan berbagi dengan sesama melalui infak di link ini: Infak Kebaikan

Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung ditunaikan di sini: Link Zakat

Aksi Bantu Sesama dan Pembayaran Zakat pun bisa ditunaikan melalui nomor rekening:

BSI 7112222407 a.n. LAZ PERSIS (Zakat / Infak / Sedekah)

Konfirmasi Transfer: +62 819-2255-523 (WhatsApp)