Jangan Hanya Menjalani Hari, tapi Maknai Harimu!‎

lazpersis.or.id - Pernahkah kita merasa hari berlalu begitu cepat, tetapi ketika malam tiba, kita bingung menjawab, "Hari ini saya sudah melakukan apa?"

Pagi datang, buka ponsel. Sebentar melihat media sosial, lalu rebahan. Niatnya istirahat lima menit, tahu-tahu sudah satu jam. Setelah itu merasa malas memulai sesuatu. Akhirnya hari habis tanpa banyak yang dikerjakan.

Sesekali bersantai tentu bukan masalah. Tubuh dan pikiran memang membutuhkan istirahat. Tetapi, kalau rebahan menjadi gaya hidup, sementara produktivitas selalu ditunda, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, "Jangan-jangan kita sedang menyia-nyiakan nikmat waktu yang Allah berikan?"

Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahabaik berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1–2)

Waktu adalah modal yang tidak bisa dikembalikan. Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan yang terlewat terkadang masih bisa datang lagi. Tetapi satu jam yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali.

Karena itu, menjadi produktif bukan sekadar perkara menjadi “sibuk”. Produktif adalah menggunakan waktu untuk sesuatu yang bernilai.

Produktif Tidak Harus Serius Terus

Produktif juga bukan berarti setiap menit harus diisi dengan pekerjaan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk terus bekerja tanpa istirahat. Yang perlu kita hindari adalah hidup tanpa arah.

Kita bisa bekerja, belajar, berolahraga, membantu orang tua, mengurus keluarga, membaca buku, berkarya, bersilaturahmi, beribadah, atau sekadar beristirahat dengan cukup. Semuanya dapat menjadi bagian dari hari yang bermakna ketika dilakukan dengan niat yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sang Panutan bersabda:

احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim)

Perhatikan tiga pesan dalam hadis ini, yakni kejar yang bermanfaat, libatkan Allah, dan jangan menyerah pada rasa malas. Inilah semangat produktif yang sehat.

Kita tidak perlu menjadi manusia yang selalu sibuk. Kita hanya perlu memastikan bahwa apa yang kita lakukan membawa kita ke arah yang lebih baik.

Jangan Tunggu Mood untuk Bergerak

Salah satu jebakan terbesar adalah menunggu mood.

“Besok saja.”

“Nanti kalau sudah semangat.”

“Kalau sudah punya waktu.”

Padahal, sering kali semangat justru muncul setelah kita mulai bergerak, bukan sebelum memulai.

Mulailah dari yang sederhana. Rapikan kamar. Selesaikan pekerjaan yang tertunda. Baca beberapa halaman. Olahraga sebentar. Pelajari sesuatu. Hubungi orang tua. Bantu pekerjaan rumah. Datang ke masjid. Kerjakan tugas yang selama ini ditunda.

Tidak harus besar. Sebab, hidup yang produktif dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dan jangan lupa, istirahat juga bagian dari produktivitas. Tidur yang cukup agar tubuh kembali bugar adalah kebaikan. Bersantai bersama keluarga adalah kebaikan. Tertawa dan menikmati waktu bersama orang-orang yang kita cintai juga bukan sesuatu yang harus dianggap salah.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai hiburan mengambil seluruh waktu, sementara kewajiban dan kebaikan selalu mendapat sisa.

Ternyata Berbuat Baik Juga Bisa Membuat Bahagia

Ada kebahagiaan yang berbeda ketika kita berhasil menyelesaikan sesuatu. Ada rasa lega setelah pekerjaan yang tertunda akhirnya selesai. Ada kepuasan ketika ilmu baru berhasil dipahami. Ada kebahagiaan ketika tubuh terasa lebih sehat karena rutin berolahraga. Bahkan, ada kebahagiaan yang lebih dalam ketika apa yang kita lakukan ternyata bermanfaat bagi orang lain.

Membantu orang tua, menolong tetangga, memberi makan orang yang membutuhkan, membagikan ilmu, sampai menyisihkan sebagian rezeki untuk infak adalah salah satu cara meraih kebahagiaan.

Kebaikan-kebaikan itu mungkin sederhana, tetapi ia membuat hari kita memiliki makna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengingatkan bahwa manusia sering terlena dengan dua nikmat yang baru terasa nilainya setelah hilang:

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya, (yakni) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Maka, jangan menunggu kehilangan kesehatan untuk menghargai tubuh. Jangan menunggu usia bertambah untuk menyadari betapa berharganya waktu. Selagi masih punya waktu dan tenaga, mari bergerak.

Baca Juga:

Harta Haram dan Harga yang Harus Dibayar

Dari Penyakit Hati hingga Kerusakan Sosial Akibat Memelihara Sifat Kikir

Ketika Hati Mulai Menggenggam Terlalu Erat

Sempurnakan Hari dengan Berbagi

Ada satu cara sederhana untuk membuat hari kita terasa lebih lengkap, salah satunya akhiri produktivitas kita dengan memberi manfaat kepada orang lain.

Setelah bekerja, sisihkan sebagian rezeki.

Setelah mendapatkan kemudahan, ingatlah mereka yang sedang kesulitan.

Setelah menikmati kebahagiaan, bagikan sebagian kebahagiaan itu kepada sesama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ

“Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.” (Q.S. Al-Baqarah: 110)

Karena itu, jangan biarkan hari yang kita jalani berhenti pada urusan diri sendiri. Sempurnakanlah dengan berbagi.

Sisihkan sebagian rezeki untuk infak agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjadi manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Sebab, produktif bukan hanya tentang berapa banyak yang kita kerjakan hari ini, tetapi juga berapa banyak kebaikan yang berhasil kita tinggalkan.

Dan mungkin, setelah seharian bekerja, belajar, berkarya, dan beraktivitas, ada satu hal sederhana yang membuat hari kita benar-benar berarti, yakni ada orang lain yang tersenyum karena kebaikan yang kita lakukan.

“Jangan biarkan hari berlalu hanya dengan lelah. Isilah ia dengan karya, tutup dengan kebaikan, dan biarkan sebagian rezeki kita menjadi kebahagiaan bagi orang lain.”

Yuk, rutinkan terus aksi berbagi melalui infak di sini: Program Infak Harian

Bagi yang belum berzakat, bisa ditunaikan di sini: Berzakat!

Aksi Rutin Bantu Sesama dan Pembayaran Zakat pun bisa ditunaikan melalui nomor rekening:

BSI 7112222407 a.n. LAZ PERSIS (Zakat / Infak / Sedekah)

Konfirmasi Transfer: +62 819-2255-523 (WhatsApp)