Ketika Hati Mulai Menggenggam Terlalu Erat

lazpersis.or.id - Kikir sering kali tidak muncul dalam diri seseorang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, bahkan kadang tanpa kita sadari. Awalnya mungkin hanya keinginan untuk memiliki lebih banyak, kemudian muncul rasa takut kehilangan, hingga akhirnya hati merasa berat ketika harus berbagi.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa salah satu penyakit hati manusia adalah kecenderungan untuk mencintai harta secara berlebihan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Cinta kepada harta tentu bukan sesuatu yang salah. Harta diperlukan untuk kehidupan dan dapat menjadi sarana kebaikan. Persoalannya muncul ketika harta tidak lagi berada di tangan, tetapi mulai menguasai hati.

Apa yang membuat sikap kikir tumbuh?

Pertama, rasa takut kekurangan.

Seseorang bisa menjadi pelit karena terus merasa bahwa apa yang dimilikinya belum cukup. Semakin banyak yang terkumpul, semakin besar pula kekhawatiran untuk kehilangan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan mendorongnya melakukan kekikiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji...” (QS. Al-Baqarah: 268)

Menariknya, ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut miskin dapat memengaruhi perilaku seseorang, bahkan membuatnya enggan mengeluarkan sesuatu untuk kebaikan.

Baca referensi lainnya:

Jika Punya Emas Simpanan 74 Kilogram, Berapa Kewajiban Zakatnya?‎

PERSIS Dukung Gagasan Zakat sebagai Pengurang Pajak

Cara Menghindari Kegelisahan Jiwa Melalui Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Kedua, terlalu mencintai apa yang dimiliki.

Ketika seseorang menjadikan harta sebagai sumber rasa aman, harga diri, atau kebahagiaan, berbagi terasa seperti kehilangan sebagian dirinya. Karena itu, masalah kikir sebenarnya bukan semata-mata persoalan jumlah harta, tetapi juga persoalan keterikatan hati terhadap harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya dia sangat kuat cintanya kepada harta.” (QS. Al-'Adiyat: 8)

Ketika kecintaan kepada harta semakin kuat, seseorang bisa mulai mengukur rasa aman dari apa yang berhasil dikumpulkannya. Akibatnya, memberi terasa mengurangi keamanan, sementara menahan harta dianggap sebagai cara untuk melindungi diri. Di sinilah keterikatan hati terhadap harta dapat menjadi pintu tumbuhnya sikap kikir.

Karena itu, kikir sebenarnya bukan semata-mata persoalan sedikit atau banyaknya harta, tetapi persoalan seberapa kuat hati terikat kepadanya. Orang yang memiliki banyak harta belum tentu kikir, dan orang yang hartanya sedikit pun belum tentu terbebas dari kekikiran. Ukurannya adalah: ketika harus berbagi, apakah hati merasa berat karena takut kehilangan apa yang dimilikinya?

Ketiga, merasa bahwa semua yang dimiliki adalah hasil usaha sendiri.

Kesuksesan kadang membuat manusia lupa bahwa kemampuan, kesehatan, kesempatan, ilmu, dan rezeki pada hakikatnya merupakan karunia Allah. Al-Qur’an mengingatkan:

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pengelola (atasnya).” (QS. Al-Hadid: 7)

Kata mustakhlafīn mengandung kesadaran penting: kita bukan pemilik mutlak, melainkan pihak yang diberi amanah untuk mengelola.

Keempat, membandingkan diri dengan orang lain.

Keinginan untuk terus memiliki lebih banyak juga dapat membuat seseorang sulit berbagi. Ketika ukuran kebahagiaan adalah “harus lebih kaya daripada orang lain”, kebutuhan tidak pernah selesai. Hati selalu merasa kurang.

Di sinilah penyakit kikir menjadi berbahaya. Yang miskin bukan selalu dompetnya, tetapi bisa jadi rasa cukup dalam hatinya.

Menariknya, Al-Qur’an tidak menggambarkan orang bertakwa sebagai manusia yang otomatis terbebas dari dorongan egois. Mereka tetap manusia yang memiliki keinginan, rasa takut, dan kecenderungan mencintai harta. Namun, orang bertakwa berusaha melawannya.

Allah menggambarkan mereka:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain...” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ayat ini sangat dalam. Berinfak ketika lapang mungkin relatif mudah. Tetapi berinfak ketika sempit adalah ujian terhadap hati.

Karena itu, pesan ayat ini bukan sekadar “jadilah orang yang suka memberi ketika punya banyak.” Pesannya jauh lebih dalam, yakni dalam kondisi apa pun, orang bertakwa berusaha melepaskan dirinya dari belenggu kekikiran.

Saat kaya, ia tidak dikuasai keserakahan. Saat sederhana, ia tidak dikuasai ketakutan. Saat lapang, ia berbagi. Saat sempit, ia tetap berusaha memberikan sesuatu sesuai kemampuannya.

Pada akhirnya, melawan kikir adalah latihan membebaskan hati dari ketergantungan kepada harta. Kita boleh memiliki banyak, tetapi jangan sampai harta memiliki kita.

Sebab ukuran kekayaan seorang mukmin bukan hanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga berapa banyak yang mampu ia lepaskan untuk menjadi manfaat bagi orang lain.

Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan: “Seberapa banyak yang saya punya?” tetapi “Seberapa erat hati saya menggenggamnya?

Yuk, bebaskan diri kita dari sifat kikir dengan rutin bantu sesama di sini: Ayo Bantu Sesama

Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung di sini: Ayo Bayar Zakat

Gerakan Bantu Sesama dan Pembayaran Zakat pun bisa ditunaikan melalui nomor rekening:

BSI 7112222407 a.n. LAZ PERSIS (Zakat / Infak / Sedekah)

BSI 7112222507 a.n. LAZ PERSIS (Khusus Donasi Kemanusiaan / Bencana)

Konfirmasi Transfer: +62 819-2255-523 (WhatsApp)