Cara Menghindari Kegelisahan Jiwa Melalui Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah

lazpersis.or.id - Ada masa ketika seseorang tampak baik-baik saja di hadapan banyak orang, tetapi diam-diam sedang berjuang menenangkan dirinya sendiri. Ia memiliki pekerjaan, keluarga, harta, bahkan pencapaian, tetapi hatinya tetap gelisah. Tidur mungkin cukup, kesibukan terus berjalan, tetapi pikiran tidak kunjung tenang.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan jiwa bukan berarti hidup tanpa masalah. Seorang mukmin tetap akan menghadapi ujian, kehilangan, kegagalan, dan ketidakpastian. Namun, iman memberikan tempat bersandar sehingga hati tidak mudah runtuh ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra‘d: 28)

Ayat ini memberikan fondasi utama bahwa sumber ketenteraman hati adalah kedekatan dengan Allah. Ketenangan dalam Islam bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan keadaan hati yang memiliki hubungan kuat dengan Rabb-nya.

Ketenangan Bukan Berarti Tanpa Masalah

Allah telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan berbagai bentuk kehilangan (Q.S. Al-Baqarah: 155). Karena itu, ketenangan bukan berarti seseorang tidak pernah sedih atau cemas, tetapi ia memiliki kemampuan untuk menghadapi semuanya dengan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999)

Dalam psikologi, kemampuan menghadapi tekanan dan bangkit dari kesulitan dikenal dengan istilah resilience. Teori resilience (resiliensi) dalam psikologi menjelaskan kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali ketika menghadapi tekanan, kesulitan, atau pengalaman yang berat. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak merasakan sedih, takut, atau kecewa, tetapi kemampuan untuk mengelola kondisi tersebut sehingga tidak kehilangan arah dan tetap mampu menjalankan kehidupannya. Dalam konteks Islam, konsep ini memiliki titik temu dengan sabar, tawakal, syukur, dan husnuzan kepada Allah, meskipun keduanya berasal dari kerangka pemikiran yang berbeda.

1. Berdzikir dan Mendekat kepada Allah

Ketenangan jiwa bermula dari hubungan dengan Allah. Dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi cara menjaga hati agar tidak sepenuhnya dikuasai oleh kekhawatiran.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41)

Ketika hati gelisah, mengingat Allah membantu seseorang mengembalikan fokus kepada Zat yang menguasai segala sesuatu. Dalam perspektif psikologi, praktik yang dilakukan secara teratur dan penuh kesadaran juga dapat membantu seseorang mengelola perhatian dan respons terhadap tekanan. Namun, dzikir dalam Islam memiliki dimensi ibadah dan tauhid yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar teknik psikologis.

2. Berbagi Rezeki dan Membantu Sesama

Kita sering mengira ketenangan akan datang setelah memiliki lebih banyak. Islam justru mengajarkan bahwa sebagian ketenangan dapat tumbuh ketika apa yang kita miliki memberi manfaat kepada orang lain.

Allah berfirman:

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (Q.S. Saba’: 39)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (H.R. Muslim No. 2588)

Berbagi tidak harus selalu dalam jumlah besar. Sedekah, membantu tetangga, memberi makan orang lain, berbagi ilmu, atau meringankan kesulitan seseorang semuanya merupakan bentuk kebaikan.

Secara psikologis, perilaku memberi juga berkaitan dengan hubungan sosial dan kesejahteraan. Martin Seligman melalui psikologi positif, misalnya, menempatkan relationships dan meaning sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia. Dalam Islam, memberi bahkan memiliki dimensi yang lebih luas, yakni ia menjadi ibadah sekaligus sarana menghadirkan manfaat.

Ada ketenangan yang tidak selalu ditemukan ketika kita mendapatkan sesuatu, tetapi justru ketika kita menjadi sebab orang lain mendapatkan pertolongan.

3. Saling Mendoakan

Manusia membutuhkan hubungan yang bermakna. Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa terhubung dengan orang lain (relatedness).

Islam mengajarkan hubungan itu melalui doa. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya akan diaminkan oleh malaikat. (HR. Muslim)

Mendoakan orang lain membuat hati keluar dari lingkaran “aku dan masalahku”. Kita belajar peduli, mencintai, dan berharap kebaikan bagi orang lain. Menariknya, terkadang hati justru menjadi lebih lapang ketika kita berhenti terlalu lama memikirkan diri sendiri.

Karena itu, biasakan mendoakan orang tua, pasangan, anak, guru, sahabat, tetangga, dan saudara-saudara kita. Boleh jadi, doa yang kita panjatkan untuk orang lain menjadi salah satu jalan Allah menenangkan hati kita sendiri.

4. Gigih Menuntut Ilmu

Kegelisahan terkadang tumbuh dari ketidaktahuan. Kita takut terhadap sesuatu yang tidak kita pahami dan mudah mengambil kesimpulan ketika pengetahuan kita terbatas.

Karena itu, Islam mengajarkan doa:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (Q.S. Thaha: 114)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)

Dalam psikologi, kebutuhan untuk merasa mampu dan terus berkembang merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia (competence). Ilmu tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi ilmu membantu seseorang memahami masalah dan menentukan cara menghadapinya dengan lebih baik.

Maka, jangan berhenti belajar. Pelajari agama dengan benar, tingkatkan kemampuan, membaca, berdiskusi, bertanya kepada ahlinya, dan terus memperluas wawasan. Hati yang berilmu biasanya lebih memiliki arah dari pada hati yang hanya dipenuhi kekhawatiran.

5. Bersabar dan Bersyukur

Ketenangan juga tumbuh dari kemampuan melihat kehidupan secara seimbang. Ketika mendapatkan nikmat, kita belajar bersyukur; ketika mendapatkan ujian, kita belajar bersabar.

Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.S. Ibrahim: 7)

Syukur membuat kita menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup adalah kekurangan, sementara sabar mencegah kita mengambil keputusan secara tergesa-gesa ketika berada dalam tekanan.

Keduanya bukan sekadar teknik psikologis, tetapi bentuk penghambaan kepada Allah.

Ketenangan Dibangun dari Kebiasaan

Ketenangan jiwa tidak dibangun dalam satu malam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, yakni menjaga salat, membaca al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, mendoakan orang lain, menuntut ilmu, menjaga hubungan baik, belajar memaafkan, dan bersabar ketika diuji.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa ketika sekelompok orang berkumpul untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an, sakinah turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, dan para malaikat menaungi mereka (HR. Muslim No. 2699).

Ini menunjukkan bahwa ketenangan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan keadaan batin seseorang, tetapi juga tumbuh melalui ibadah, ilmu, kebersamaan, dan amal saleh.

Hati yang Menemukan Tempat Bersandar

Pada akhirnya, kita tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan dalam kehidupan. Tidak semua kehilangan dapat dicegah, tidak semua keinginan menjadi kenyataan, dan tidak semua masalah selesai sesuai waktu yang kita harapkan. Tetapi, kita selalu dapat memperbaiki hubungan dengan Allah.

Kita dapat berdzikir ketika gelisah, salat ketika hati terasa berat, membaca al-Qur’an ketika pikiran penuh, berbagi ketika memiliki rezeki, mendoakan orang lain ketika kita sendiri membutuhkan doa, dan terus belajar ketika ketidaktahuan membuat kita takut.

Barang kali, inilah ketenangan yang sering kita cari ke mana-mana, hati tidak selalu membutuhkan kehidupan yang lebih mudah; hati membutuhkan tempat bersandar yang benar.

Al-Qur’an telah memberikan jawabannya:

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. ar-Ra‘d: 28)

Maka, jangan hanya mencari ketenangan dengan menambah apa yang kita miliki. Carilah ia dengan mendekat kepada Allah, memperbanyak kebaikan, berbagi rezeki, mendoakan sesama, dan tidak pernah berhenti menuntut ilmu.

Sebab boleh jadi, ketenangan yang kita cari bukan berada di tempat yang jauh. Ia sedang tumbuh di dalam hati yang kembali mengingat Allah, tangan yang ringan memberi, lisan yang gemar mendoakan, dan langkah yang tidak pernah lelah mencari ilmu.

Persoalan mungkin belum semuanya selesai. Tetapi ketika hati telah menemukan Allah sebagai tempat bersandar, kita tidak lagi menghadapinya seorang diri.

Yuk, kuatkan lagi rutinitas berbagi melalui link ini: Link Berbagi Kebaikan

Bagi yang belum menunaikan zakat, bisa langsung ditunaikan di sini: Link Bayar Zakat


Baca Juga:

Kisah Inspiratif Khaerunnisa Oktaviani dari Garut yang Ingin Menjadi Seorang Psikolog

Merenungi Firman Allah Surah Al-Isra Ayat 7‎

Jika Punya Emas Simpanan 74 Kilogram, Berapa Kewajiban Zakatnya?‎