Kisah Inspiratif Khaerunnisa Oktaviani dari Garut yang Ingin Menjadi Seorang Psikolog

Selasa, (23/06/2026) KAB. GARUT - Ada kisah penggugah semangat yang mampu menumbuhkan harapan dari Garut. Keteguhan hati dan tekad untuk terus belajar menjadi bukti bahwa tidak alasan untuk berhenti menggapai cita-cita, apa dan bagaimana pun kondisinya. Sebagai bentuk kepedulian terhadap santri penyandang disabilitas, LAZ PERSIS kembali melaksanakan penyaluran Program Beasiswa Santri Tangguh di Kabupaten Garut.

Program ini merupakan upaya untuk mendukung para santri agar tetap memiliki kesempatan yang setara dalam menempuh pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Salah satu penerima manfaat adalah Khaerunnisa Oktaviani yang akrab dipanggil Ica, santri kelas XI PPI 87 Pangatikan, Garut yang merupakan penyandang disabilitas tuna daksa.

Sejak lahir, Khaerunnisa tidak memiliki tangan kanan sehingga dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seperti menulis dan belajar, ia mengandalkan tangan kirinya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah mematahkan semangatnya untuk terus belajar dan berprestasi.

Khaerunnisa dikenal sebagai pribadi yang rajin, tekun, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Selain aktif mengikuti berbagai kegiatan santri di sekolah, ia juga mengajar mengaji serta membantu pekerjaan rumah ketika berada di rumah.

Saat ini, Khaerunnisa tinggal bersama kakek, nenek, dan adiknya karena sang ibu telah meninggal dunia. Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi, Khaerunnisa memiliki cita-cita mulia, yaitu menjadi seorang psikolog agar dapat membantu banyak orang yang sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan hidup.

Penyaluran beasiswa yang dilakukan langsung oleh LAZ PERSIS diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para santri penyandang disabilitas untuk terus melanjutkan pendidikan serta meraih cita-cita yang diimpikan. Hal tersebut disampaikan langsung tim pendistribusian LAZ PERSIS, Nada Prima Dewi.

Semua anak punya hak untuk menikmati indahnya masa sekolah. Untuk mewujudkannya, LAZ PERSIS hadir sebagai penyambung kabaikan dari orang-orang baik,” ungkap Teh Nada.

Khaerunnisa mengaku pernah merasa minder dengan kondisi yang dimilikinya. Namun, ia memilih bangkit dan menjadikan keadaan tersebut sebagai motivasi untuk terus berusaha.

Saya pernah minder karena keadaan saya, tapi saya harus bangkit dan membanggakan orang tua. Saya juga harus terus melanjutkan sekolah untuk menggapai cita-cita saya,” ungkap Khaerunnisa.

Ia juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menjadi salah satu penerima Beasiswa Santri Tangguh. Menurutnya, dukungan dari para guru menjadi salah satu penyemangat hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftar program tersebut.

Ketika saya mendapat informasi Beasiswa Santri Tangguh, guru-guru mendukung saya untuk mendaftar. Alhamdulillah saya menjadi penerima manfaat beasiswa tersebut. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh donatur. Semoga Allah membalas segala kebaikannya,” tuturnya.

Kisah Khaerunnisa menjadi pengingat bahwa setiap orang tidak boleh membatasi diri untuk bermimpi dan berprestasi. Dengan tekad, kerja keras, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya, setiap langkah kecil dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik sekaligus menginspirasi banyak orang.

Jadilah bagian dari aksi kebaikan melalui infak di link ini: Infak Pendidikan Indonesia

Jangan lupa juga untuk menunaikan kewajiban zakat melalui link ini: Link Bayar Zakat


Baca Juga:

Beasiswa Santri Tangguh Diberikan kepada Santri Berprestasi di PPI 16 Cipada

Semai Harapan di Cianjur: Dukungan Modal Pertanian untuk Menguatkan Ketahanan ‎Pangan Keluarga

Ketika Seragam Sekolah Menjadi Barang Mewah bagi Anak Indonesia