Ketika Seragam Sekolah Menjadi Barang Mewah bagi Anak Indonesia
lazpersis.or.id - Pagi itu, jutaan anak Indonesia mengenakan seragam terbaiknya dan berangkat menuju sekolah dengan penuh semangat. Namun, di sudut-sudut negeri ini, masih ada anak-anak yang hanya bisa melihat teman-temannya belajar dari balik jendela rumah. Ada yang tidak lagi bersekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan, ada pula yang tetap bertahan di bangku sekolah meski harus memakai sepatu yang sudah sobek, seragam yang mulai kekecilan, atau alat tulis yang dipakai bergantian dengan saudaranya.
Bagi sebagian keluarga, membeli seragam, tas, dan buku tulis mungkin perkara sederhana. Akan tetapi, bagi jutaan keluarga prasejahtera di Indonesia, kebutuhan-kebutuhan itu bisa menjadi beban yang begitu berat hingga mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.
Jutaan Anak Indonesia Masih Belum Berada di Ruang Kelas
Data terbaru yang dirilis pemerintah berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Tahun 2025 menunjukkan bahwa terdapat 2.922.607 anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah. Jumlah terbesar berasal dari kelompok usia 16–18 tahun, yakni mencapai 2.009.918 anak. Artinya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula risiko anak-anak Indonesia untuk terputus dari bangku sekolah.
Data tersebut memang menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tetapi angka hampir tiga juta anak tidak sekolah tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini. Di balik angka tersebut terdapat jutaan cita-cita yang terancam padam dan masa depan yang dipertaruhkan.
Lebih memprihatinkan lagi, Susenas 2025 mencatat bahwa salah satu penyebab utama anak tidak bersekolah adalah tidak memiliki biaya, yang mencapai 20,35 persen dari total alasan anak tidak bersekolah. Sebagian lainnya terpaksa berhenti karena harus bekerja membantu ekonomi keluarga, menikah dini, atau terkendala akses pendidikan.
Memang sekolah negeri menyediakan sekolah tanpa biaya bulanan. Namun, pembiayaan sekolah bukan hanya berbicara iuran bulanan saja. Anak-anak yang bersekolah harus dibekali dengan seragam, sepatu, alat tulis, tas, dan hal-hal lainnya yang tidak gratis.
Kemiskinan Masih Menjadi Penghalang Pendidikan
Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa angka anak tidak sekolah masih berkaitan erat dengan kondisi sosial-ekonomi keluarga. Anak-anak dari kelompok rumah tangga miskin memiliki risiko lebih besar untuk putus sekolah dibandingkan anak-anak dari keluarga yang lebih sejahtera.
Sering kali penyebabnya bukan karena orang tua tidak peduli pada pendidikan. Sebaliknya, banyak orang tua memiliki keinginan besar agar anaknya terus belajar. Namun, keterbatasan ekonomi membuat mereka harus memilih antara membeli kebutuhan sehari-hari atau memenuhi perlengkapan sekolah anak.
Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, satu pasang sepatu baru, satu set seragam sekolah, atau beberapa buku tulis bisa menjadi pengeluaran yang sangat besar.
Padahal, setiap anak berhak datang ke sekolah dengan perasaan percaya diri dan nyaman. Tidak sedikit anak yang kehilangan semangat belajar karena merasa minder dengan kondisi perlengkapan sekolahnya yang tidak layak.
Pendidikan Adalah Hak, Bukan Kemewahan
Dalam pandangan Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Q.S. al-'Alaq: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan pendidikan merupakan fondasi peradaban umat.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
Bahkan, Rasulullah ﷺ menegaskan:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Tidak ada pemberian terbaik dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. al-Hakim)
Hadis ini mengajarkan bahwa pendidikan adalah hak anak sekaligus amanah yang harus dipenuhi oleh orang tua, masyarakat, dan negara. Ketika ada anak yang tidak dapat bersekolah karena kemiskinan, sesungguhnya itu bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian bersama.
Pendidikan yang Berkeadilan Adalah Investasi Peradaban
Tidak ada bangsa yang maju tanpa pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Sekolah bukan sekadar tempat memperoleh nilai dan ijazah, tetapi tempat lahirnya generasi yang kelak akan menjadi guru, dokter, ulama, pemimpin, dan penggerak peradaban.
Karena itu, setiap anak yang kembali bersekolah karena bantuan pendidikan sesungguhnya adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. Setiap seragam yang dikenakan dengan bangga, setiap buku yang dapat dibaca, dan setiap langkah kecil menuju ruang kelas adalah harapan baru bagi Indonesia.
Kita mungkin tidak mampu membangun sekolah di setiap pelosok negeri. Namun, kita masih bisa melakukan sesuatu yang sangat berarti, seperti memastikan ada anak yang tetap dapat bersekolah karena uluran tangan kita.
Hari ini, masih ada hampir tiga juta anak Indonesia yang tidak bersekolah, dan jutaan anak lainnya berasal dari keluarga yang terus berjuang memenuhi kebutuhan dasar pendidikan mereka.
Karena itu, menghadirkan pendidikan yang berkeadilan tidak bisa hanya menggantungkan harapan kepada pemerintah. Mewujudkan pendidikan berkeadilan membutuhkan kesadaran bersama melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Melalui program-program bantuan pendidikan yang diselenggarakan oleh LAZ PERSIS, kita dapat ikut mengambil bagian dalam menghadirkan harapan bagi anak-anak Indonesia, baik melalui bantuan biaya pendidikan, perlengkapan sekolah, beasiswa, maupun dukungan bagi keluarga dhuafa.
Mungkin bagi kita, satu seragam sekolah hanyalah selembar kain. Satu tas dan beberapa buku tulis hanyalah benda sederhana. Namun, bagi seorang anak, semua itu bisa menjadi alasan untuk tetap melanjutkan sekolah dan menjaga mimpinya tetap hidup.
Mari berbagi rezeki untuk mewujudkan pendidikan yang lebih berkeadilan. Sebab, ketika kita membantu seorang anak untuk terus belajar, sesungguhnya kita sedang ikut menyalakan cahaya masa depan bangsa dan menanam amal yang insya Allah terus mengalir pahalanya.
Bagi yang tergerak mendukung anak-anak Indonesia untuk bersekolah, bisa infak langsung di sini: Infak Pendidikan Indonesia
Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung ditunaikan di sini: Link Zakat
Baca Juga:
Warisan Apa yang Akan Kita Berikan kepada Anak-Anak Kita?
Ayah Harus Hadir: Menjaga Keluarga, Menjaga Bangsa
Beasiswa Santri Tangguh Diberikan kepada Santri Berprestasi di PPI 16 Cipada