Ayah Harus Hadir: Menjaga Keluarga, Menjaga Bangsa
lazpersis.or.id - Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan ini bukanlah sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan memiliki akar sejarah yang sangat menyentuh.
Tanggal tersebut dipilih karena berkaitan dengan peristiwa bersejarah pada tahun 1949 ketika pasukan Belanda mulai ditarik dari Indonesia setelah pengakuan kedaulatan bangsa ini. Situasi tersebut memungkinkan para pejuang kemerdekaan yang selama bertahun-tahun berada di medan perjuangan untuk kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka.
Bagi para pejuang, pulang ke rumah bukan hanya berarti kembali ke sebuah bangunan bernama rumah. Mereka kembali kepada pelukan istri, canda anak-anak, dan kehangatan keluarga yang selama ini mereka rindukan. Setelah berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa, mereka kembali kepada tempat pertama yang memberikan makna bagi setiap perjuangan, yakni keluarga.
Karena itu, penetapan 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional mengandung pesan yang sangat dalam. Sekuat apa pun sebuah bangsa, fondasinya tetap berada pada keluarga.
Rumah adalah tempat pertama seseorang belajar mencintai, berkorban, menghormati, dan bertanggung jawab. Dari keluargalah lahir para guru, ulama, pemimpin, ilmuwan, dan para pejuang yang membangun peradaban. Sebaliknya, banyak persoalan besar yang dihadapi bangsa sesungguhnya berawal dari rapuhnya institusi keluarga.
Maka, ketika kita memperingati Hari Keluarga Nasional, sesungguhnya kita sedang diajak untuk kembali merenungi pertanyaan yang sangat mendasar. Sudahkah keluarga kita menjadi tempat yang saling menjaga? Sudahkah rumah kita menjadi tempat tumbuhnya iman, cinta, dan keteladanan? Sudahkah kita menyiapkan keluarga yang tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga dipertemukan kembali di akhirat?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sejatinya dijawab oleh Al-Qur'an melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menariknya, Allah tidak berfirman, “Jagalah keluargamu,” tetapi mendahuluinya dengan perintah, “Jagalah dirimu.” Para ulama menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu membimbing keluarganya menuju kebaikan apabila ia sendiri tidak berusaha memperbaiki dirinya.
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah agar setiap mukmin mendidik dirinya dan keluarganya dengan ilmu, adab, dan ketakwaan. Sementara Ibnu Katsir menukil perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
“Didiklah mereka dan ajarkanlah mereka.”
Dengan demikian, menjaga keluarga bukan semata-mata memastikan mereka tercukupi kebutuhan ekonominya, tetapi juga memastikan mereka mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, terbiasa dengan ibadah, serta memiliki akhlak yang mulia.
Pada titik inilah kita memahami bahwa keluarga dalam Islam memiliki orientasi yang jauh lebih besar daripada sekadar kebahagiaan dunia. Keluarga adalah proyek peradaban sekaligus proyek akhirat.
Tujuan akhirnya bukan hanya menghadirkan keluarga yang hasanah fid dunya (bahagia, harmonis, dan sejahtera di dunia), tetapi juga hasanah fil akhirah, yaitu keluarga yang dipertemukan kembali di surga Allah.
Sebab, apa arti keberhasilan seorang ayah mengantarkan anaknya menjadi dokter, insinyur, atau pemimpin, jika ia gagal mengantarkan mereka menjadi hamba-hamba yang dekat dengan Allah?
Apa arti sebuah rumah yang megah apabila di dalamnya tidak tumbuh iman dan ketakwaan?
Apa arti kesuksesan dunia jika pada hari kiamat kelak kita tidak dapat berkumpul kembali dengan orang-orang yang paling kita cintai?
Karena itu, peringatan Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita pada satu pesan penting, yakni Ayah Harus Hadir. Kehadiran ayah tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dengan menghadirkan cinta, keteladanan, dan pendidikan iman bagi keluarganya. Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan sosok yang bekerja untuk mereka, melainkan juga sosok yang berjalan bersama mereka menuju ridha Allah. Dari ayah yang hadir lahir keluarga yang kuat, dan dari keluarga yang kuat akan tumbuh bangsa yang bermartabat.
Karena itu, Hari Keluarga Nasional sesungguhnya mengingatkan kita bahwa perjuangan terbesar bukan hanya membangun rumah yang nyaman untuk ditinggali, tetapi juga membangun keluarga yang layak menjadi penghuni surga.
Dan perjuangan itu dimulai dari hal-hal sederhana, seperti saling menyapa, saling mendengarkan, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta saling menjaga agar tidak ada satu pun anggota keluarga yang tersesat dari jalan Allah.
Di sinilah makna terdalam sebuah keluarga. Setiap anggota keluarga berjalan bersama menuju ridha-Nya dan saling menggenggam tangan agar kelak dapat masuk surga bersama-sama.
Yuk, jadilah keluarga dermawan dengan rutin berinfak di link ini: Program Berbagi Rezeki
Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung akses kemudahannya di sini: Bayar Zakat Sekarang!
Baca Juga:
Merenungi Firman Allah Surah Al-Isra Ayat 7
Beasiswa Santri Tangguh Diberikan kepada Santri Berprestasi di PPI 16 Cipada
Tips Menjaga Kebugaran Tubuh di Musim Kemarau