Bulan Ramadan: Momen Menanamkan Nilai-Nilai Ketauhidan kepada Anak


Penulis: Hafidz Fuad Halimi
25 Feb 2026
Bagikan:
By: Hafidz Fuad Halimi
25 Feb 2026
74 kali dilihat

Bagikan:

lazpersis.or.id - Di tengah derasnya arus digital, tekanan akademik, pergaulan bebas, serta paparan konten tanpa batas, anak-anak hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Tidak sedikit orang tua dibuat cemas oleh perubahan perilaku anak, seperti mudah marah, tertutup, kecanduan gawai, kehilangan arah, bahkan mengalami stres berat. Dalam beberapa kasus ekstrem, kita mendengar kabar memilukan tentang anak-anak yang merasa putus asa hingga terpikir mengakhiri hidupnya. Fenomena ini menjadi alarm bahwa anak tidak hanya membutuhkan kecukupan materi dan pendidikan formal, tetapi juga fondasi ruhani yang kokoh.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat mendasar. Orang tua bukan sekadar penyedia kebutuhan fisik, melainkan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Q.S. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya duniawi, tetapi juga ukhrawi. Dalam Islam, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan tauhid sejak dini, di antaranya mengenal siapa Tuhannya, memahami untuk apa ia hidup, serta menyadari bahwa setiap persoalan memiliki tempat bergantung yang pasti, yaitu Allah ﷻ.

Ramadan adalah momen terbaik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sekolah ketakwaan yang menghadirkan suasana spiritual berbeda di rumah. Sebagaimana firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Anak melihat orang tuanya bangun sahur, menjaga lisan, memperbanyak tilawah al-Qur’an, bersedekah, dan menahan amarah. Semua itu adalah pelajaran tauhid yang hidup, yakni keteladanan nyata tentang ketaatan kepada Allah.

Hak Anak atas Bimbingan Tauhid

Setiap anak berhak diperkenalkan kepada Rabb-nya dengan cara yang lembut dan penuh cinta. Tauhid bukan sekadar hafalan tentang rukun iman, tetapi keyakinan mendalam bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Menyayangi hamba-Nya. Nasihat Luqman kepada anaknya menjadi contoh pendidikan tauhid yang agung:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman: 13)

Ketika anak memahami bahwa Allah selalu dekat, ia tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi masalah. Ramadan menghadirkan banyak momentum untuk itu. Orang tua dapat mengajak anak berdialog tentang makna puasa, seperti mengapa kita berpuasa meski tak ada yang melihat? Mengapa kita bersedekah? Mengapa kita membaca al-Qur’an? Jawabannya selalu kembali pada satu inti, yaktu karena Allah memerintahkannya dan kita mencintai-Nya. Inilah benih tauhid yang perlahan tumbuh dalam hati anak.

Hak Anak atas Keteladanan

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat dibanding apa yang ia dengar. Ketika orang tua menasihati tentang sabar tetapi mudah marah, anak menangkap kontradiksi. Namun ketika ia melihat ayah dan ibunya menjaga shalat, menahan emosi saat berpuasa, serta memuliakan sesama, ia menyerap nilai itu tanpa paksaan.

Ingatlah, bahwa Rasul itu hadir untuk menjadi teladan bagi kita semua. Hal tersebut dituangkan dalam surat al-Ahzab ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ramadan menjadi panggung keteladanan. Rumah yang dipenuhi tilawah al-Qur’an, doa bersama menjelang berbuka, dan shalat berjamaah akan membentuk atmosfer iman yang mengakar kuat dalam jiwa anak. Keteladanan ini adalah hak anak yang tak boleh diabaikan.

Hak Anak atas Kasih Sayang Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah

Kasih sayang bukan berarti memanjakan tanpa batas. Kasih sayang dalam Islam adalah bimbingan yang terarah, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal sangat lembut kepada anak-anak. Beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang besar.” (H.R. Tirmidzi)

Anak berhak mendapatkan perhatian, pelukan, dialog, dan waktu berkualitas—terutama di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Mengajak anak berbuka bersama, mendengarkan keluh kesahnya setelah tarawih, atau membaca kisah para nabi sebelum tidur adalah cara sederhana namun bermakna untuk menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dari sana, anak belajar bahwa agama bukan beban, melainkan cahaya yang menenangkan. Sebagaimana firman Allah:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. ar-Ra’d: 28)

Ramadan sebagai Benteng Jiwa Anak

Penanaman nilai-nilai tauhid sejak dini akan membangun ketahanan mental dan spiritual pada anak. Ia akan tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan, ujian adalah bagian dari takdir Allah, dan setiap kesulitan pasti disertai jalan keluar. Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. al-Insyirah: 5–6)

Keyakinan ini menjadi benteng ketika ia menghadapi tekanan pergaulan, kegagalan akademik, atau krisis identitas. Sebaliknya, ketika anak kehilangan arah tauhid, ia lebih rentan terhadap perilaku tak terduga, seperti mudah stres, mencari pelarian pada kecanduan, hingga terjebak dalam keputusasaan yang berbahaya. Kita telah menyaksikan kasus-kasus anak yang merasa hidupnya hampa, tertekan, bahkan terpikir untuk bunuh diri karena tidak memiliki sandaran ruhani yang kuat.

Karena itu, menjadikan Ramadan sebagai momen menanamkan nilai-nilai ketauhidan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Tauhid yang tertanam kuat akan melahirkan anak yang tangguh, sabar, dan optimis. Anak yang mengenal Tuhannya tidak mudah goyah oleh badai kehidupan. Dan dari rumah-rumah yang dipenuhi tauhid itulah akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga kokoh imannya dan tenang jiwanya.

Yuk, dukung program berbagi di Bulan Ramadhan melalui link ini: Infak Berbagi Ramadhan

Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa langsung tunaikan di sini: Link Bayar Zakat


Baca Juga:

Program Berkah Ramadhan 1447 H Siap Menjembatani Kebaikan Umat

Perkuat Gerakan Zakat di Momentum Ramadan, PERSIS Selenggarakan Dauroh Zakat Nasional

Ekosistem Program Pendidikan LAZ PERSIS: Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan

 

Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags: ramadhan lazpersis #anak pendidikan keluarga

Berita Lainnya

Mitra LAZ Persatuan Islam
WhatsApp