lazpersis.or.id - Adakah di antara kita yang masih suka berbohong? Apakah di antara kita masih ada yang belum menyadari dampak buruk dari kebiasaan berbohong terhadap diri?
Disadari atau tidak, kebiasaan berbohong itu bisa merusak diri sendiri. Semakin tidak disadari, semakin besar kerusakannya. Daya rusaknya mencakup diri si pembohong tersebut sampai ke masyarakat di sekitarnya.
Berbohong merupakan salah satu sifat tercela yang bisa merusak hati, kepercayaan, dan hubungan antar manusia. Kebohongan itu sangat dibenci, sampai-sampai Allah pun mengutuk pelakunya.
Sekali seseorang terbiasa berbohong, maka hidupnya akan dikelilingi kebohongan berikutnya. Setiap kebohongan, akan ditutup dengan kebohongan baru. Akibatnya, semakin hari semakin terjebak dalam kebohongan yang tiada akhirnya. Menderitalah hidupnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menegaskan bahwa kejujuran membawa keselamatan sementara kebohongan menjerumuskan ke dalam kehancuran.
عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا وَعَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
Dari Abu Wail dari Abdullah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong. Dan hendaklah kalian jujur, sebab jujur menggiring kepada kebaikan, dan kebaikan akan menggiring kepada surga. Dan sungguh, jika seseorang berlaku jujur dan terbiasa dalam kejujuran hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai orang yang jujur.”
Dampak Bohong bagi Diri Sendiri
Orang yang sering berbohong akan merasa cemas dan takut kebohongannya terbongkar. Setiap kali ia bicara, akan ada rasa was-was. Hidupnya selalui dilingkupi kekhawatiran dan ketakutan bohongnya terungkap. Bayangkan sebuah bola kecil dilempar ke dalam air. Setiap kali ingin tenggelam, bola itu akan memantul ke atas. Demikian pula dengan kebohongan, semakin ditutupi, semakin muncul ke permukaan.
Kebohongan menumbuhkan kebiasaan buruk lain, seperti menipu, mengelabui, bahkan memfitnah. Dari satu kebohongan kecil bisa lahir kebohongan yang lebih besar. Begitulah seterusnya hingga semakin rusak hati dan akhlak seorang pembohong. Bahkan, orang yang gemar berbohong memiliki kecenderungan memiliki sifat kikir. Bertambahkah kerusakan akhlaknya.
Seorang pembohong itu tidak sadar, orang yang dibohonginya itu tahu bahwa ia dibohongi. Hanya saja, ia tidak mengungkapkan bahwa ia tahu. Akibatnya, si pembohong merasa bahwa kebohongannya berhasil.
Kondisi yang tidak disadari itu sejatinya merusak reputasi diri yang akan tersiar di tengah-tengah masyarakat. Pembohong itu tak sadar, reputasi yang melekat membelenggu dirinya dari penerimaan sosial. Imbasnya, rezekinya akan sempit dan terkucil dari ruang masyarakat. Siapa yang akan memercayakan pekerjaan kepadanya? Siapa yang berminat mengajaknya bekerja sama? Siapa yang minat memerikan pertolongan di masa sulit? Jawabannya, tidak ada! Semua karena reputasinya sudah rusak di masyarakat akibat kebohongan yang terus diulang.
Dampak Bohong Bagi Masyarakat
Jika kebohongan menjadi kebiasaan, masyarakat akan kehilangan rasa percaya. Dalam keluarga, pertemanan, hingga dunia kerja, kepercayaan adalah bekal utama. Bayangkan sebuah jembatan kayu yang rapuh. Setiap kali satu papan rusak, jembatan makin tidak aman dilalui. Kebohongan adalah papan rusak. Semakin banyak kebohongan, semakin runtuh jembatan kepercayaan dan semakin berisiko. Tidak ada yang mau memberikan pekerjaan, terlebih pekerjaan yang memerlukan kejujuran kepada orang yang sudah tidak dipercaya.
Kebohongan sering menimbulkan fitnah, salah paham, dan konflik antarindividu atau kelompok. Masyarakat yang penuh kebohongan akan sulit bersatu dan berkembang.
Perhatikkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (jujur). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’” (Q.S. al-Isra: 53)
Kebohongan pun bukan hanya merusak dunia, tetapi juga membinasakan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalah hadis yang telah disebutkan, yakni kedustaan itu bisa menyababkan seseorang masuk ke neraka.
Berbohong pun merupakan salah satu ciri kemunafikan yang sangat dibenci oleh Allah. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata berbohong, apabila berjanji ingkar, dan apabila diberi amanah khianat.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Membiasakan Kejujuran
Di zaman ini, kejujuran seolah menjadi barang mahal. Jika kebohongan itu ibarat racun, maka kejujuran adalah obatnya. Bersikap jujur memang terkadang terasa sulit, tetapi ia menyelamatkan kita dari dosa, menjaga martabat, dan membuat hidup lebih tenang. Betapa berharganya insan yang sekuat tenaga menjaga dirinya agar selalu bersikap dan bertutur jujur. Menjaga kejujuran pun sama dengan menjaga reputasi diri di tengah masyarakat. Dan, itu menjadi investasi diri yang akan dinikmati hasilnya, cepat atau lambat.
Seperti menanam pohon, kebohongan adalah menanam duri, cepat tumbuh tapi menyakiti. Kejujuran ibarat menanam pohon buah, butuh kesabaran, tetapi akhirnya memberi manfaat dan keberkahan. Bukan hanya bagi masyarakat, tapi untuk diri pribadi.
Berbohong membawa dampak buruk, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat. Kejujuran bisa menjadi pondasi kehormatan diri dam masyarakat. Dengan jujur, hidup lebih bermakna dan tenteram, hubungan antar manusia menjadi lebih sehat, serta masyarakat lebih damai.
Yuk, buktikan kejujuran imanmu dengan berinfak dan bersedekah di link ini: Link Infak & Sedekah
Tunaikan juga kewajiban zakatmu melalui link ini: Link Bayar Zakat
Baca Juga:
Pajak vs Zakat: Menelusuri Perbedaan dalam Konteks Keadilan Sosial
Doa bagi Orang yang Sedang Mengalami Persoalan Berat
Dari Usaha Keripik Pisang Menuju Kemandirian Ekonomi
Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags:
lazpersis
infak
sedekah
bohong