Guru memiliki kedudukan yang istimewa di dalam ajaran Islam. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga peradaban. Guru bukan hanya sosok yang menyampaikan informasi atau sekadar memberi tugas kepada murid, tetapi ia adalah pembimbing kehidupan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan bahwa para ulama (yang juga mencakup guru) adalah warasatul anbiya, pewaris para nabi. Beliau bersabda:
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (H.R. at-Tirmidzi)
Hadis di atas menegaskan bahwa guru mewarisi tugas utama para nabi, yaitu menyampaikan ilmu, memperbaiki akhlak, dan membimbing umat menuju jalan kebaikan. Ini bermakna bahwa guru tidak hanya menyampaikan fakta pengetahuan, tetapi mengarahkan manusia agar hidup sesuai nilai luhur, yakni kebenaran hakiki.
Tanggung jawab seorang guru dalam Islam tidak sesempit mengajar di depan kelas. Dalam al-Qur’an, Allah menyebut bahwa tugas Nabi itu mencakup pendidikan akhlak dan penyucian jiwa.
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul... yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah...” (Q.S. al-Jumu’ah: 2)
Ayat ini tidak hanya menggambarkan tugas Nabi, tetapi juga menjadi warisan pendidikan kepada setiap guru. Guru tidak hanya membacakan ilmu, tetapi juga menyucikan nilai-nilai dalam diri murid, membentuk karakter, dan mengarahkan perilaku. Dengan demikian, guru sebenarnya berjuang membangun kualitas manusia, bukan sekadar meningkatkan nilai ujian.
Pengorbanan guru sering kali terbungkus dalam kesunyian. Banyak guru yang menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran walaupun belum mendapatkan kesejahteraan yang layak. Akan tetapi, Allah menegaskan bahwa ilmu memiliki derajat tinggi dan guru adalah perantara naiknya derajat tersebut:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Q.S. al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menyiratkan bahwa Allah sendiri yang memuliakan guru karena merekalah yang mengantarkan manusia kepada ilmu. Maka wajar bila mengabaikan pemuliaan terhadap guru berarti mengingkari anugerah Allah atas ilmu yang kita miliki.
Dalam Islam, menghormati guru bukan hanya etika sosial, tetapi bagian dari adab yang menentukan keberkahan ilmu. Imam Syafi’i berkata, “Aku tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan menghormati guru.”
Bahkan ulama salaf mencontohkan betapa tinggi adab kepada guru hingga mereka tidak berani meninggikan suara di hadapan guru sebagaimana Allah memerintahkan umat untuk tidak meninggikan suara di hadapan Rasul (Q.S. al-Hujurat: 2). Ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada guru adalah bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bukan sekadar menerima ilmu dari guru, tetapi juga menghormati dan mengapresiasi mereka dengan cara yang kita mampu. Apakah itu lewat doa yang tulus, sikap sopan, ucapan terima kasih, atau bahkan membantu kesejahteraan mereka bila mampu. Tidak perlu menunggu pemerintah menyelesaikan semuanya karena penghormatan sejati dimulai dari hati setiap murid.
Mari bersama-sama memuliakan guru, bukan hanya di satu hari peringatan, tetapi setiap hari dalam doa dan tindakan nyata. Sebab melalui guru, Allah meninggikan derajat kita dengan ilmu, dan melalui penghargaan kita kepada guru, Allah akan memberkahi ilmu yang kita dapatkan.
Yuk, dukung para guru agar bisa menyampaikan ilmu sempai ke pelosok-pelosok negeri melalui infak di sini: Infak Jelajah Dakwah Indonesia
Bagi yang hendak menunaikan zakat, bisa lengsung ditunaikan di link ini: Bayar Zakat Sekarang!
Baca Juga:
Kita dan Pahlawan Nyata di Sekitar Kita
Kiat-Kiat Mendidik Kesabaran terhadap Anak
Rumah Bangkit Cendikia Secara Resmi Berdiri di Yogyakarta
Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags:
lazpersis
pendidikan
guru
santri