Menjaga Ketakwaan dengan Cara Memelihara Silaturrahim


Penulis: K.H. M. Rahmat Najieb
17 Feb 2024
Bagikan:
By: K.H. M. Rahmat Najieb
17 Feb 2024
297 kali dilihat

Bagikan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. an-Nisaa [4]: 1)


Para mufassir menyimpulkan bahwa takwa adalah, “Sikap seseorang yang membuat wiqayah (penghalang) antara dirinya dengan siksa Allah dan kemurkaan-Nya; siksa dunia maupun akhirat.  Pembentukan wiqayah ini dengan cara melaksanakan segala perintah Allah, meninggalkan segala larangan-Nya, serta mengamalkan sunah Rasul-Nya. Dan, takwa itu harus menjadi sifat yang menetap pada setiap situasi dan kondisi.

Jika kita berbuat sesuatu yang dengannya dapat menjauhkan diri kita dari siksa Allah dan mendekatkan diri kepada keridhaan-Nya, maka amal itu adalah takwa. Misalnya, meningkatkan keimanan, mencari ilmu yang bermanfaat, beribadah dengan khusyuk, membiasakan diri mengikuti sunah, berusaha meninggalkan akhlak tercela, serta menghindari perbuatan makruh dan haram bahkan tak berguna.

Pada ayat tersebut, Allah Swt. tidak langsung menggunakan lafazh jalalah (Allah), tetapi menggunakan kata rabb (Pengurus) untuk menggugah perasaan annâs (sekalian manusia), bahwa hahikatnya mereka adalah makhluk yang lemah tidak berdaya dan perlu bantuan sejak keberadaannya.

Berbeda dengan makhluk lain, misalnya hewan yang bisa hidup mandiri dan bisa mempertahankan dirinya sendiri. Berdasarkan analogi tersebut, maka makna dari ayat tersebut adalah bertakwalah kepada Tuhan Yang mengurusmu dan takutlah kalau kamu tidak diurus lagi atau dibiarkan pleh Pengurusmu.  

Ayat tersebut menegaskan bahwa moyang seluruh manusia itu adalah Adam a.s, bukan merupakan hasil evolusi dari binatang tertentu, mislanya dari kera. Kita langsung mendapat pengetahuan tentang penciptaan Adam ini dari Allah sebagai Khaliqul 'Alam. Sebab itu, manusia adalah manusia. Artinya, manusia merupakan makhluk yang tetap akan dibangkitkan lagi dan tidak dapat terlepas dari penghisaban amal nanti di hari perhitungan.

Penciptaan manusia pertama kali dari tanah, selanjutnya dari air mani sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِىۡۤ اَحۡسَنَ كُلَّ شَىۡءٍ خَلَقَهٗ​ وَبَدَاَ خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِيۡنٍ​ۚ‏  ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهٗ مِنۡ سُلٰلَةٍ مِّنۡ مَّآءٍ مَّهِيۡنٍ​ۚ‏

(Allah) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (Q.S. as-Sajdah [32]: 7-8)

Manusia kedua tidak diciptakan dari tanah seperti yang pertama, melainkan dari bagian tubuh Adam a.s. Karena itu, manusia dilihat dari penciptaannya ada empat, yakni

  1. yang tidak punya ayah ibu, yaitu hanya Adam a.s.
  2. yang punya ayah tak beribu, yaitu Hawa (Dijelaskan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk suaminya).
  3. yang tak punya ayah tapi punya ibu, yaitu Nabi Isa binti Maryam a.s.
  4. yang berayah-ibu, yaitu kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : {مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ ، وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ ، فَإِنْ ذَهَبْت تُقِيمُهُ كَسَرْته ، وَإِنْ تَرَكْته لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا} مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah r.a, katanya, telah bersabda Rasulullah saw., Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Dengarlah wasiatku tentang para istri agar diperlakukan dengan baik karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas; jika engkau meluruskannya berarti mematahkannya, jika membiarkannya, berarti akan tetap bengkok. Dengarlah washiyatku tentang para istri agar diperlakukan dengan baik. (Muttafaq 'Alaih)

Adam dan Hawa setelah ditempatkan di bumi melahirkan anak yang banyak, laki-laki dan perempuan. Bahkan merusut riwayat, telah lahir lebih dari 40 pasang. Anak-anak Adam a.s. terlahir dengan bermacam-macam rupa, baik postur tubuhnya, warna kulitnya, rambutnya, maupun perilakunya.  Karena tidak ada manusia lain selain keturunan mereka berdua, maka hukum pada saat itu mengharuskan menikah dengan kakak atau adik.

Usia manusia pada masa itu sangat lama. Kita mengenal Nabi Nuh a.s (Rasul generasi ketiga), berusia hampir 1000 tahun. Bisa kita bayangkan usia kehamilan dari dulu sama, yaitu sampai sembilan bulan. Mahasuci Allah yang telah menciptakan miliaran manusia dari satu jiwa. Berarti, siapa pun orangnya adalah masih saudara, apalagi diikat dengan iman dan Islam.

Pada perintah takwa yang kedua dari ayat di surah an-Nisa ayat 1 menggunakan lafazh Jalalah (Allah) dan tidak menggunakan kata Rabb lagi. Biasanya, orang Arab jika meminta atau bersumpah sering menyebutkan dengan nama Allah. Pembeli saja bila menawar harga, suka berkata, “Demi Allah mahal”. Kata penjualnya, “Demi Allah murah”. Demikian juga jika minta dikasihani, menguncapkan “Demi Allah, tolonglah saya, saya butuh bantuanmu...”. Jika saat membutuhkan pertolongan atau bantuan melibatkan nama Allah, maka selayaknya setiap saat kita harus bertakwa kepada-Nya. Sabda Rasulullah saw. dari Abu Dzar r.a,

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي) قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

"Takwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikuti kejelekan dengan kebaikan, tentu akan menghapusnya, dan perlakukan orang-orang dengan akhlak yang baik." (HR at-Tirmidzi) Berkata Abu Isya, katanya Hadits ini Hasan Shahih.

Ayat di atas pun memerintahkan kita agar bersilaturrahim. Silaturrahim artinya menghubungkan kasih sayang. Setiap orang pasti menaruh kasihan kepada ibu sedang hamil dan kepada bayi yang sedang dikandungnya. Ia sering mendapat perlakuan khusus karena kasihan, siapa pun dia; apakah orang baik atau orang jahat.

Perhatikan induk ayam yang baru menetaskan telurnya! Bagaimana sikapnya? Lihat pula induk kuda yang rela mengangkat kaki belakangnya hanya karena takut menginjak anaknya yang akan menyusu.

Begitu pula Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada para bayi kecil, karena mereka baru keluar dari rahim ibunya. Tetapi saat bayi itu menginjak dewasa dan sering melakukan yang menjengkelkan ibunya, saat itulah silaturrahim terputus. Putus karena perlakuan jelek anak terhadap ibunya atau kejelekan yang terjadi di antara saudara. Maka ayat ini menegaskan, "Peliharalah Siilaturrahmi!" Sabda Rasulullah Saw,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ } يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Dari Jubair bin Muth'im r.a., katanya, telah bersabda Rasulullah saw., "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan". Yakni, memutuskan silaturrahim. (Muttafaq 'Alaih)

Bentuk silaturrahim bukan bersalaman, saling mengunjungi, tiap tahun pulang kampung, melainkan ikatan kasih sayang kepada siapa saja terutama orang tua dan kerabat. Apalah artinya peluk cium pipi jika masing-masing hatinya tidak menaruh sayang. Sekali pun orang yang kita cintai telah tiada atau berada di tempat yang jauh sehingga jarang bertemu, namun silaturrahmi bisa tetap berlanjut, salah satunya dengan do'a yang ikhlas.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ ومُسْلِمٌ .

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (dikenang kebaikannya), hendaklah ia menjalin silaturrahim”. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. telah bersilaturrahim dengan umatnya melalui dakwah dan jihadnya. Jasanya terkenang sampai akhir zaman. Setiap shalat, kita menyebut namanya dan menjadi tanda bahwa kita pun selalu bershalawat untuknya.  Demikian juga para sahabatnya, para perawi hadits, para pewakaf, para penulis buku Islam, para da'i yang ikhlas, dan lain-lain, mereka telah bersilaturrahim dengan kita. Dan, insya Allah pahalanya akan terus mengalir selama jasa dan karyanya dimanfaatkan. Kita pun harus selalu mendo'akan mereka dan setiap orang yang berjasa kepada kita, sebagai balasan silaturrahim mereka. Jangan lupa juga, kita pun harus bersilaturrahim dengan orang-orang kemudian, melalui jasa tanpa pamrih. Apapun yang kita lakukan, walaupun hanya do'a yang digetarkan dalam hati atau keinginan untuk berbuat baik pasti Allah mengetahui dan mengawasi. Dan, memelihara silaturrahim itulah yang menjadi salah satu tanda takwa yang tertanam dalam diri kita.

Wallahu A'lam bis Shawab

 

Yuk, tambah ketakwaan dengan berzakat, berinfak, dan bersedekah di sini.

Baca Juga: DOA INILAH YANG DIPANJATKAN MALAIKAT BAGI ORANG YANG BERTOBAT

Baca Juga: KIAT MEMBANGUN KELUARGA SEHAT

Penulis: K.H. M. Rahmat Najieb
Tags: silaturahmi AKHIRAT takwa

Berita Lainnya

Mitra LAZ Persatuan Islam