Rahasia Menuju Puncak Kebaikan Berdasar Surat Ali Imran Ayat 92‎


Penulis: Hafidz Fuad Halimi
27 Apr 2026
Bagikan:
By: Hafidz Fuad Halimi
27 Apr 2026
170 kali dilihat

Bagikan:

lazpersis.or.id - Sahabat yang sedang berada di usia produktif sangat paham bagaimana rasanya bekerja keras. Kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengumpulkan harta. Membeli rumah impian, kendaraan, hingga menyiapkan tabungan masa depan. Harta yang kita kumpulkan dengan peluh itu tentu menjadi sesuatu yang sangat kita cintai.

Lalu, di tengah kenyamanan dan rasa cinta kita terhadap hasil jerih payah tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala  menurunkan sebuah ayat yang begitu menohok, namun sekaligus menjadi kunci rahasia menuju level spiritual tertinggi. Allah berfirman dalam Surat Ali 'Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Membaca ayat ini, kita seolah diajak berdialog langsung oleh Sang Pencipta, “Apakah cintamu kepada-Ku lebih besar dari pada cintamu pada hartamu?”

Membedah Makna

Agar pemahaman kita lebih mendalam dan substantif, mari kita selami bagaimana para ulama tafsir terkemuka menjelaskan ayat yang luar biasa ini:

  1. Imam Al-Qurthubi (Kitab Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an) Imam Al-Qurthubi menitikberatkan pada kata “Al-Birr” (kebajikan). Beliau menjelaskan bahwa al-Birr dalam ayat ini bukanlah sekadar kebaikan biasa. Para sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud menafsirkannya sebagai Surga. Artinya, seseorang tidak akan pernah menyentuh hakikat kebaikan tertinggi (yang balasannya adalah jaminan Surga) sampai ia mampu mengalahkan egonya dan melepaskan harta yang paling ia sayangi di jalan Allah.
  2. Ibnu Katsir (Kitab Tafsir Al-Qur'an Al-'Azim) Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengabadikan kisah nyata yang sangat menggugah dari sahabat Abu Thalhah radiyallahu ‘anhu. Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah langsung menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia memiliki sebuah kebun kurma paling subur, paling indah, dan paling ia cintai bernama kebun Bairuha (letaknya persis di depan Masjid Nabawi). Tanpa ragu sedikit pun, Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh hartaku yang paling aku cintai adalah Bairuha, dan aku menyedekahkannya untuk Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat takjub dan memuji tindakan tersebut sebagai “harta yang sangat menguntungkan”. Ibnu Katsir menunjukkan bahwa ayat ini langsung dipraktikkan oleh para sahabat dengan memberikan the best of the best dari apa yang mereka miliki.
  3. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Kitab Taysir al-Karim ar-Rahman memberikan pendekatan psikologis yang sangat relevan dengan kita. Beliau menjelaskan bahwa tabiat dasar manusia adalah mencintai harta. Ketika seseorang bersedia mengeluarkan harta yang dicintainya, seperti uang tabungan bernominal besar demi meraih ridha Allah, itu adalah bukti valid (burhan) bahwa iman dan cintanya kepada Allah telah mengalahkan kecintaannya pada dunia. Ini adalah proses “mendidik jiwa” agar tidak diperbudak oleh materi.

Kurban: Ujian Nyata Melepaskan Harta yang Dicintai

Sahabat, penjelasan ayat di atas menemukan momentum paling relevannya pada Ibadah Qurban. Mari kita akui, menunaikan Qurban bukanlah perkara yang ringan. Mengeluarkan dana jutaan rupiah, yang mungkin sudah kita kumpulkan berbulan-bulan dari menyisihkan gaji itu membutuhkan peperangan batin tersendiri. Ada saja bisikan, “Uang tiga sampai empat juta ini lumayan untuk ganti gadget baru, untuk liburan keluarga, atau ditabung saja.”

Namun, bukankah ini inti dari Surat Ali 'Imran ayat 92? Uang jutaan rupiah itu adalah “mimma tuhibbun” (sesuatu yang kamu cintai). Ketika Anda mentransfer dana tersebut untuk membeli seekor domba atau sapi, pada detik itu pula Anda sedang mempraktikkan kebajikan tertinggi (Al-Birr). Anda meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang rela mengorbankan hal yang paling dicintainya (Nabi Ismail) demi ketaatan mutlak kepada Allah.

Meluaskan Dampak Qurban sebagai Syiar Peradaban

Nilai Qurban kita akan semakin berlipat ganda (super barokah) ketika harta yang kita cintai itu tidak hanya sekadar disembelih, tetapi menghasilkan dampak syiar Islam yang masif.

Bayangkan jika Qurban bernilai jutaan rupiah yang Anda keluarkan itu tidak hanya menumpuk di kota besar yang sudah surplus daging. Bayangkan jika Qurban Anda menjelajah hingga ke wilayah pelosok (3T), disalurkan melalui tangan para da'i yang sedang berjuang mempertahankan akidah masyarakat pedalaman.

Pelaksanaan Perogram Qurban Super Berokah (QSB) di Belitung.

Pengorbanan harta Anda tidak hanya sekadar mengenyangkan perut mereka, tetapi menjadi “senjata” dakwah. Daging Qurban Anda menjadi pelukan hangat Islam bagi mereka yang merasa terpinggirkan, menyatukan hati, dan memperkokoh peradaban Islam di titik-titik paling rawan.

Inilah wujud paling indah dari melepaskan apa yang kita cintai, yakni “Harta di tangan kita akan habis termakan usia, tetapi harta yang dilepaskan di jalan Allah akan abadi menjadi pahala dan peradaban”.

Yuk, bergabung di Program QSB dengan cara klik link ini: Daftar Qurban 2026

Bagi yang belum menunaikan zakat, bisa langsung klik link ini: Bayar Zakat Sekarang!


Baca Juga:

Ganjaran dari Allah bagi Mereka yang Berqurban

Ibadah Qurban: Lebih dari Sekadar Menyembelih

Santri Mart Resmi Berdiri di Pesantren Al-Ghifari Sukabumi

 

Penulis: Hafidz Fuad Halimi
Tags: lazpersis ibadah qurban iduladha QSB

Berita Lainnya

Mitra LAZ Persatuan Islam
WhatsApp